Panduan perjalanan

Berapa GB yang saya butuhkan untuk Indonesia? Panduan berdasarkan profil perjalanan

Marc González Sáez Marc González Sáez ·22 Juli 2026 ·14 menit membaca
Portón tradicional de templo balinés con tallas ornamentales

Kamu sudah merencanakan perjalanan, tahu kalau kamu butuh data, dan satu-satunya yang perlu diputuskan adalah ukuran paketnya. Jadi langsung ke intinya soal berapa GB yang saya butuhkan untuk Indonesia dan bagaimana angkanya berubah tergantung apakah kamu turis dua minggu yang berbasis di Bali atau digital nomad yang tinggal sebulan di Canggu. Spoiler: antara dua profil ini, perbedaannya bisa tiga atau empat kali lipat, dan itulah kenapa kebanyakan panduan umum kasih angka yang tidak tepat sasaran.

Jawaban singkatnya, dalam gigs

Untuk 14 hari di Indonesia dengan basis di Bali, kebanyakan orang akan cukup dengan 10 GB: sekitar 500 MB per hari untuk maps, Gojek, WhatsApp, dan media sosial, dengan dukungan WiFi dari akomodasi. Kalau kamu digital nomad dan bekerja selama sebulan, incar 30 GB. Kalau kamu mengunggah video setiap hari, 50 GB.

Itulah angka yang saya berikan pada sembilan dari sepuluh orang yang bertanya. Dan saya percaya angka itu karena di Indonesia ada satu hal yang menguntungkanmu: WiFi di akomodasi dan kafe jauh lebih baik dari yang orang bayangkan. Di Canggu dan Ubud, kafe yang oke memberikan kecepatan yang cukup untuk bekerja, dan hampir semua vila atau hotel kelas menengah punya koneksi yang lumayan. Artinya, data selulermu sebagian besar terpakai di luar: di skuter, di mobil Grab, di sawah, di pasar, di antrean feri.

Kalau kamu datang dari panduan umum tentang berapa banyak data yang kamu butuhkan untuk bepergian, logikanya sama, tetapi di sini pembagian antara WiFi dan data lebih menguntungkan dibandingkan, misalnya, roadtrip di Amerika Serikat. Yang benar-benar mengubah angkanya di Indonesia adalah empat hal spesifik: aplikasi transportasi, perjalanan jauh antar pulau, jam-jam tanpa sinyal di gunung berapi dan kapal, serta banyaknya foto dan video yang akhirnya kamu ambil. Semuanya akan saya rinci.

Kenapa Indonesia mengubah angkanya

Setiap destinasi punya jejak konsumsinya sendiri, dan jejak Indonesia unik: pemakaianmu sedikit dalam satu waktu, tapi berlangsung berjam-jam berturut-turut. Sebulan di Bali tidak sama dengan sebulan di Tokyo atau sepuluh hari di Maroko.

Hal-hal yang mendorong konsumsimu naik:

  • Gojek dan Grab. Kamu membukanya sepuluh atau lima belas kali sehari untuk memesan ojek, mobil, atau makanan. Setiap kali, ada peta langsung, pelacakan pengemudi, dan chat dengannya.
  • Perjalanan yang sangat panjang. Dari Canggu ke Uluwatu bisa memakan waktu satu setengah jam di tengah macet. Dari Bali ke Ijen atau Borobudur, setengah hari. Di sinilah orang menghabiskan banyak data lewat Instagram, Spotify, dan YouTube.
  • Foto dan video tanpa henti. Indonesia adalah salah satu destinasi dengan konten terbanyak yang dibuat per hari perjalanan. Dan mengunggahnya jauh lebih besar pemakaiannya daripada sekadar menontonnya.
  • Feri, pelabuhan, dan bandara domestik. Jam-jam mati dengan ponsel di tangan, dan WiFi publik di sana hampir tidak pernah berfungsi.

Hal-hal yang mendorong konsumsimu turun:

  • WiFi bagus di kafe dan coworking space di Canggu, Seminyak, dan Ubud, dengan kecepatan yang sanggup menangani panggilan video tanpa masalah.
  • Tidak perlu VPN wajib atau penerjemah dengan kamera sepanjang waktu: di area turis, bahasa Inggris berfungsi dan rambu-rambu mudah dibaca.
  • Berjam-jam tanpa sinyal saat trekking, snorkeling, dan penyeberangan, di mana konsumsinya benar-benar nol.

Kalau kamu juga ingin tahu operator apa saja dan koneksi seperti apa yang akan kamu temui di lapangan, semuanya sudah diurai dalam panduan internet di Indonesia. Di sini saya fokus hanya pada gigs-nya.

Berapa Banyak Data yang Dipakai Setiap Aktivitas

Sebelum memilih paket, ada baiknya tahu berapa berat data setiap aktivitas. Ini adalah angka referensi yang wajar; ponselmu mungkin sedikit berbeda tergantung kualitas jaringan dan pengaturan, tapi urutan besarnya seperti ini:

Aktivitas Perkiraan konsumsi Dalam sehari normal di Bali
Google Maps navigasi (peta biasa) 5-10 MB/jam 20-40 MB
Google Maps dalam tampilan satelit 120-150 MB/jam Hindari
WhatsApp hanya teks Hampir tidak ada 5-10 MB
Panggilan suara WhatsApp ~1 MB/menit (60 MB/jam) 30-60 MB
Panggilan video WhatsApp 5-12 MB/menit (300-700 MB/jam) 0-300 MB
Instagram atau TikTok scrolling ~700 MB/jam 200-700 MB
Upload foto 3-5 MB per foto 50-150 MB
Streaming musik (kualitas normal) 50-70 MB/jam 50-150 MB
YouTube 480p 250 MB/jam 0-500 MB
YouTube 1080p 1,5 GB/jam Hanya dengan wifi
Email dan browsing web 10-20 MB/jam 30-60 MB

Yang terlihat jelas: peta bukanlah masalah, sama sekali bukan. Banyak orang membeli paket besar «karena akan banyak pakai GPS» padahal navigasi seharian di Bali biayanya lebih murah dari dua menit video berkualitas tinggi. Video —menontonnya dan terutama mengunggahnya— adalah 80% dari tagihan data setiap pelancong modern. Jika kamu ingin angka per aktivitas lebih detail, aku sudah mengumpulkannya di statistik penggunaan data seluler per aktivitas.

Berapa GB Sesuai Profil dan Harimu

Ini tabel yang benar-benar menjawab keraguan. Dihitung dengan asumsi normal di Indonesia: kamu tidur di tempat dengan wifi dan menggunakannya untuk hal berat (backup, serial, unduhan). Jika kamu akan menginap di bungalow pantai tanpa koneksi yang layak, naikkan satu tingkat.

Profil 5 hari 10 hari 15 hari 30 hari
Turis peta dan WhatsApp 2 GB 3 GB 5 GB 8 GB
Turis foto dan media sosial (paling umum) 3 GB 7 GB 10 GB 20 GB
Digital nomad / kerja jarak jauh 5 GB 10 GB 18 GB 30 GB
Kreator konten upload video 10 GB 20 GB 30 GB 50 GB atau lebih
Keluarga berbagi satu ponsel sebagai hotspot 5 GB 10 GB 15 GB 25 GB

Beberapa klarifikasi jujur. Pertama: jika perjalananmu dua minggu dan kamu termasuk di baris pertama, dengan 5 GB kamu lebih dari cukup dan tidak perlu mengeluarkan uang lebih, meskipun kami menjual paket lebih besar. Kedua: baris keluarga mengasumsikan satu ponsel berbagi koneksi dengan yang lain; jika masing-masing membawa data sendiri, terapkan baris yang sesuai untuk masing-masing dan akan lebih murah berbagi daripada memusatkan.

Ketiga, dan yang terpenting untuk Indonesia: jarak antara baris 2 dan baris 3 bukan soal kepribadian, melainkan soal jam layar dengan laptop terhubung ke ponsel. Begitu kamu berbagi koneksi dengan komputer, konsumsi data menjadi tiga atau empat kali lipat tanpa kamu sadari.

Turis Dua Minggu

Perjalanan khas: mendarat di Denpasar, basis di Canggu atau Ubud, beberapa hari di Nusa Penida atau Lembongan, mungkin mampir ke Lombok atau Gili, dan jika kamu berani, matahari terbit di Ijen atau Bromo di Jawa. Empat belas atau enam belas hari. Berapa sebenarnya yang kamu habiskan?

Rincian sehari normal profil ini:

Waktu Aktivitas Data
Pagi Peta, cari tempat, pesan Gojek, balas WhatsApp 60-80 MB
Perjalanan Instagram dan musik di mobil atau skuter 150-300 MB
Siang Upload foto dan story, cari restoran 100-200 MB
Malam Semua via wifi akomodasi 0-50 MB
Total hari 350-600 MB

Kalikan dengan 14 dan hasilnya antara 5 dan 8,5 GB. Itu sebabnya 10 GB untuk dua minggu adalah rekomendasi dengan ruang aman: itu mencakup hari-hari aneh (hari panggilan video panjang dengan rumah, hari penerbangan tertunda di Ngurah Rai, hari villa dengan wifi mati) tanpa kelebihan setengah lusin gigabyte. Jika perjalananmu hanya seminggu, 5 GB sudah cukup dan titik. Dan jika kamu termasuk yang jarang melihat ponsel dan hanya ingin peta dan pesan, 3 GB untuk sepuluh hari sangat realistis. Aku lebih suka mengatakannya dengan jelas dan kamu akan membeli lagi lain kali daripada menjual paket yang tidak akan kamu habiskan.

Digital Nomad Sebulan

Di sini semuanya berubah. Bukan pelancong yang sama dengan lebih banyak hari: ini konsumsi lain, struktur lain, dan risiko lain. Digital nomad di Canggu atau Ubud bekerja enam atau tujuh jam sehari, rapat video, upload dan download file, dan —ini yang penting— menggunakan ponsel sebagai hotspot setiap kali wifi kafe mati, yang di musim ramai lebih sering dari yang diinginkan.

Kabar baiknya adalah infrastruktur Bali memadai: coworking dengan koneksi stabil, kafe yang dirancang untuk bekerja, dan vila dengan serat optik yang layak. Kabar buruknya adalah di bulan Juli, Agustus, dan Natal, wifi kafe penuh sesak dengan banyak orang, dan saat itulah kamu menggunakan data tepat saat panggilan video penting.

Digital nomad tidak membeli gigabyte untuk bekerja: dia membeli gigabyte agar tidak bergantung pada wifi orang lain saat mati. Itulah asuransinya, dan itulah mengapa dia membeli lebih.

Perhitungan nyata untuk 30 hari bekerja dari Bali:

  • Panggilan video dengan data: 500 MB - 1 GB per jam dalam kualitas tinggi. Dua jam darurat per minggu sudah 8 GB per bulan.
  • Hotspot untuk laptop: 1-2 GB per hari kerja penuh jika kafe mengecewakanmu.
  • Penggunaan pribadi (media sosial, musik, peta, urusan): 8-12 GB per bulan.

Dengan 30 GB untuk sebulan kamu nyaman; dengan 20 GB kamu pas-pasan tapi masih mungkin jika akomodasi memiliki koneksi bagus; dengan 10 GB kamu akan kehabisan di minggu kedua. Jika pekerjaanmu membutuhkan upload besar —desain, editing, transfer besar—, langsung saja ambil 50 GB.

Pembuat konten yang mengunggah video

Profil ini layak mendapat bab tersendiri karena mematahkan semua tabel. Menonton video menghabiskan data; mengunggahnya menghabiskan jauh lebih banyak, dan kamu melakukannya dari pantai, dari sawah, atau dari motor—selalu pakai data.

Apa yang kamu unggah Perkiraan ukuran
Foto biasa dari ponsel 3-5 MB
Karusel 10 foto 30-50 MB
Story 15 detik 10-15 MB
Reel atau TikTok 30-60 detik 20-50 MB
Video panjang atau kualitas tinggi 100 MB atau lebih
Cadangan otomatis galeri foto satu hari 500 MB - 2 GB
Mengirim material mentah ke cloud untuk diedit 2-5 GB per sesi

Perhatikan dua baris terakhir: di sanalah paket data siapa pun menguap. Kalau kamu membiarkan cadangan otomatis aktif dengan data seluler dan seharian merekam di Nusa Penida, kamu bisa menghabiskan 2 GB sebelum makan malam tanpa memublikasikan apa pun. Itu kesalahan nomor satu yang saya lihat di Bali. Jika kamu memublikasikan setiap hari —tiga atau empat konten video, stories, dan juga membalas pesan langsung—, hitung 1,5-2 GB per hari hanya untuk unggahan, plus penggunaan normalmu. Itu berarti 50-60 GB per bulan, dan itu bukan omongan pemasaran: itu aritmetika. Saran saya, lakukan dua hal: unggah yang ringan (stories, Reel pendek) dengan data saat waktunya, dan cadangkan materi berat serta backup untuk wifi di akomodasi atau coworking pada malam hari. Dengan disiplin itu, kamu turun dari 60 GB ke sekitar 30 GB tanpa harus berhenti memublikasikan.

Gojek, Grab, dan WiFi asli pulau

Aplikasi transportasi adalah sumber kebocoran kecil yang konstan di Indonesia. Secara individu, pemakaiannya kecil —peta langsung perjalanan dua puluh menit sekitar 3-5 MB—, tapi kamu membukanya berkali-kali sehari sehingga total antara 50 dan 120 MB per hari untuk lokasi, lacak pengemudi, chat, foto pesanan makanan, dan notifikasi. Dalam sebulan, itu berarti 2 hingga 4 GB hanya untuk bergerak dan makan. Tidak ada yang menghitungnya, tapi semua orang menghabiskannya.

Faktor lainnya adalah di mana ada WiFi asli dan di mana tidak:

Di mana kamu berada WiFi Apa yang kamu lakukan dengan data
Coworking di Canggu atau Ubud Sangat baik Hampir tidak ada
Kafe laptop-friendly Baik, padat di musim ramai Cadangan sesekali
Vila atau hotel kelas menengah Cukup Hampir tidak ada
Bungalow atau homestay pantai Lemah atau terputus-putus Semuanya
Gili Trawangan Biasa; Air dan Meno, lebih buruk Hampir semuanya
Ferry, pelabuhan, dan bandara domestik Minimal Semuanya
Restoran atau warung desa Kadang ada Tergantung

Aturan praktisnya sederhana: semakin jauh kamu dari segitiga Canggu-Seminyak-Ubud, semakin kamu bergantung pada gigas sendiri. Perjalanan 100% Bali selatan menghabiskan jauh lebih sedikit daripada perjalanan yang sama dengan seminggu tersebar di Gili Air, Lombok, dan Labuan Bajo, di mana WiFi akomodasi adalah lotere dan kamu akhirnya menggunakan ponsel untuk semuanya, termasuk pemesanan kapal.

Di mana kamu tidak akan menghabiskan satu mega pun

Bagian ini hampir tidak pernah dihitung siapa pun, dan itulah alasan mengapa di Indonesia orang membeli paket data yang lebih besar dari yang diperlukan. Ada banyak jam —sangat banyak— di mana ponselmu benar-benar tidak memiliki sinyal, dan karenanya tidak menghabiskan apa pun:

  • Pendakian gunung berapi. Batur di pagi buta, Ijen, Rinjani, Bromo. Tiga hingga delapan jam trekking tanpa sinyal atau sinyal minimal.
  • Perjalanan kapal. Fast boat ke Gili, ke Nusa Penida, atau ke Komodo. Kamu kehilangan sinyal beberapa menit setelah berangkat.
  • Komodo dan pulau-pulau di taman nasional. Labuan Bajo punya sinyal di kota; di pulau-pulau dan kapal beberapa hari, lupakan saja.
  • Snorkeling, menyelam, dan hari-hari di pantai. Bukan karena tidak ada sinyal, tapi karena ponsel tetap di tas kedap air.
  • Pedalaman Jawa dan daerah pedesaan Sumatra atau Sulawesi. Sinyal tidak merata di luar jalan utama.

Dalam perjalanan dua minggu dengan dua hiking dan tiga perjalanan kapal, itu dengan mudah berarti tiga atau empat hari setara konsumsi nol. Itu seperlima dari perjalanan. Itu sebabnya perhitungan seperti '500 MB per hari selama 14 hari' selalu membengkak: hari-harinya tidak semuanya sama.

Konsekuensi praktisnya ganda. Pertama, kamu bisa turun satu tingkat dalam perkiraanmu jika rutenya sangat alami. Kedua, dan yang lebih penting: bawa peta yang diunduh offline sebelum mendaki gunung berapi atau naik kapal, karena kalau tidak, kamu akan tanpa data dan tanpa peta sekaligus. Semua ini saya jelaskan dengan detail cakupan per zona di panduan eSIM untuk Indonesia.

Hitung pemakaianmu sebelum berangkat

Semua angka di atas adalah rata-rata. Data akuratnya ada di kantongmu, gratis: pemakaian bulan lalu di rumah. Itu prediktor terbaik yang ada dan bisa dicek dalam dua menit.

Di Android: Pengaturan → Jaringan & Internet → SIM → Penggunaan data. Di iPhone: Pengaturan → Data seluler, lalu di bawah total periode (ada baiknya reset statistik di tanggal 1 bulan ini agar ukurannya bersih). Kamu akan lihat total meganya dan rincian per aplikasi, di situlah letak kejutannya.

Sekarang sesuaikan angka itu dengan tiga koreksi untuk Indonesia:

  1. Kurangi wifi rumah dan kantor. Di Bali kamu juga akan punya wifi hampir setiap malam, jadi kalau di rumah kamu pakai 12 GB sebulan dengan data, saat bepergian kemungkinan besar angkanya mirip atau sedikit lebih besar, bukan tiga kali lipat.
  2. Tambah efek bepergian. Peta, transportasi, terjemahan seperlunya, lebih banyak foto, lebih banyak stories: antara 30% dan 60% lebih banyak dari bulan normalmu.
  3. Sesuaikan per hari. Bagi pemakaian bulananmu dengan 30, kalikan dengan jumlah hari perjalanan, lalu tambahkan 30-60% itu.

Contoh nyata: kalau kamu habiskan 8 GB per bulan di Indonesia, itu 265 MB per hari; untuk 14 hari di Bali dengan tambahan 50% jadinya sekitar 5,6 GB. Beli 10 GB dan tidur nyenyak. Perhitungan dua menit itu lebih berharga dari tabel mana pun, termasuk punyaku, karena dibuat berdasarkan kebiasaanmu, bukan kebiasaan turis rata-rata.

Menghemat GB dan apa yang harus dilakukan jika kurang

Setelah paket dibeli, ada lima penyesuaian yang di Indonesia membuat perbedaan besar dan bisa dilakukan sebelum berangkat dari rumah:

  • Peta offline untuk Bali, Lombok, Jawa Timur, dan area yang akan kamu kunjungi. Google Maps memungkinkanmu mengunduh per area dan berfungsi sempurna tanpa data.
  • Cadangan hanya via wifi. Foto, iCloud, Drive, semuanya. Ini adalah poin yang paling banyak menghemat gigabyte di destinasi ini.
  • Putar video otomatis dimatikan di Instagram, TikTok, X, dan Facebook. Hanya dengan ini kamu bisa turunkan 30-40% konsumsi media sosial.
  • Mode hemat data sistem, plus hemat data spesifik di dalam YouTube dan Spotify. Unduh daftar putar dan podcast malam sebelumnya.
  • Kualitas unggahan dikurangi jika kamu posting: 1080p daripada 4K untuk stories dan Reels tidak terlihat di ponsel dan bobotnya setengahnya.

Daftar lengkap penyesuaian ada di panduan tips menghemat data saat bepergian.

Bagaimana jika kamu kekurangan? Gampang: isi ulang. Dan justru karena itulah saranku lebih baik kurang daripada kelebihan. Paket digital bisa diperluas langsung dari ponsel dalam beberapa menit dengan jalur yang sama, tanpa perlu ke toko mana pun atau memindahkan apa pun —kalau kamu belum pernah pakai, di sini aku jelaskan apa itu eSIM dan cara kerja isi ulang—. Sebaliknya, gigabyte yang kamu beli lebih dan tidak terpakai tidak akan kembali. Membeli 30 GB "siapa tahu" untuk perjalanan dua minggu turisme biasa adalah membuang uang dengan kemungkinan yang sangat tinggi. Mulailah secukupnya, cek pemakaian di hari ketiga, dan putuskan dengan data nyata.

Pertanyaan umum

Pertanyaan yang paling sering kuterima soal gigabyte dan Bali, dijawab singkat.

Berapa GB yang kubutuhkan untuk 10 hari di Bali?

Antara 5 dan 7 GB untuk turis biasa. Kalau hanya pakai peta dan WhatsApp, 3 GB saja cukup. Kalau sering foto dan upload stories setiap hari, siapkan 7-10 GB. Kuncinya seberapa banyak kamu akan mengandalkan wifi akomodasi.

Kalau untuk sebulan penuh kerja dari Canggu?

30 GB adalah angka nyaman untuk nomaden digital selama 30 hari. Dengan 20 GB cukup pas tetapi bisa jika vilamu atau coworking punya koneksi bagus. Di bawah 15 GB kamu akan kekurangan begitu ada dua minggu panggilan video.

Apakah 3 GB cukup untuk seminggu?

Ya, jika kamu pemakai ringan. Peta, pesan, sesekali pencarian, dan foto yang diunggah via wifi muat di 3 GB selama tujuh hari. Yang tidak muat adalah nonton video atau scroll satu jam sehari dengan data: itu saja sudah 700 MB per hari.

Apakah Gojek dan Grab boros data?

Antara 50 dan 120 MB per hari jika kamu pakai terus-menerus. Sedikit per perjalanan, tapi karena sering dibuka bisa mencapai 2-4 GB dalam sebulan. Ini lebih besar dari yang orang kira, meski tetap kecil dibandingkan video.

Apakah aku butuh data di Gili dan Komodo?

Ya, dan bahkan lebih dari di Bali. Wifi akomodasi di sana lemah, jadi kamu akan bergantung pada gigabytemu untuk semuanya. Namun, saat perjalanan kapal dan di dalam taman Komodo tidak ada sinyal, jadi jam-jam itu tidak menghabiskan apa pun.

Apakah layak membeli paket tanpa batas?

Hanya jika kamu mengunggah video secara profesional atau hidup dari laptop dengan berbagi koneksi. Untuk sisanya, paket 10-20 GB mencakup perjalanan dengan cadangan dan harganya jauh lebih murah. Jujur pada dirimu sendiri seberapa banyak video yang benar-benar kamu unggah.

Bisakah aku berbagi data dengan pasangan atau keluarga?

Ya, dengan titik akses ponsel. Ini berfungsi baik di Indonesia dan nyaman untuk hotel atau mobil. Perlu diingat pemakaiannya diakumulasi, jadi jika kalian berdua terus-terusan terhubung sepanjang hari, hitung sekitar 60% hingga 80% lebih banyak gigabyte.

Bagaimana cara tahu berapa GB yang sudah kupakai selama perjalanan?

Dengan cek penghitung ponsel setiap dua atau tiga hari. Di Pengaturan ada penggunaan data periode tersebut. Bagi yang sudah terpakai dengan jumlah hari yang berlalu dan proyeksikan ke total perjalanan: kamu akan langsung tahu apakah muat atau perlu isi ulang.

Kesimpulan

Singkatnya tanpa basa-basi. Turis dua minggu dengan basis di Bali: 10 GB. Jika pemakaianmu ringan dan hanya butuh peta serta pesan, 5 GB sudah lebih dari cukup dan tidak perlu lebih. Nomaden digital sebulan: 30 GB. Pembuat konten yang mengunggah video setiap hari: 50 GB, dan itupun masih kurang kalau tidak menyimpan materi berat untuk wifi coworking.

Perbedaan antara turis dan nomaden bukan hanya beberapa gigabyte: tiga kali lipat lebih banyak, dan itulah kenapa tidak masuk akal membeli paket yang sama untuk keduanya. Cocokkan dengan tabel profil, bandingkan dengan pemakaian nyata bulan lalu, kurangi jam di gunung berapi dan kapal, dan beli secukupnya. Jauh lebih baik isi ulang di tengah perjalanan daripada membayar gigabyte yang tidak terpakai.

Setelah kamu putuskan, ini dia paket data untuk Indonesia dengan durasi dan ukuran dari panduan ini, bisa diaktifkan sebelum berangkat dari rumah dan bisa diperluas langsung dari ponsel jika kamu kehabisan di Canggu.

Marc González Sáez
Ditulis olehMarc González Sáez Pendiri PuraSim dan spesialis eSIM serta konektivitas untuk pelancong. Bertahun-tahun membantu bepergian tetap terhubung di seluruh dunia tanpa membayar lebih untuk roaming, dan secara pribadi menguji eSIM di setiap destinasi sebelum merekomendasikannya.
Bagikan panduan ini
eSIM Indonesia
eSIM kamu untuk destinasi ini
eSIM Indonesia

Aktifkan dengan QR dalam 1 menit dan mendarat tetap terhubung. Tanpa roaming, termasuk hotspot, dan dukungan manusia 24/7.

Perjalananmu berikutnya, terhubung

Data di 222 destinasi. Tanpa roaming. Aktif dalam 1 menit.

Pilih eSIM kamu